Lokasi Streaming Kamera CCTV buat yang Mudik

http://124.81.82.136/ltmc2008/kamera/streaming-cctv.php

Kamera CCTV dari lokasi lokasi pengamatan
  1. Kamera Patrol,
  2. Kamera Losari,
  3. Kamera Comal,
  4. Kamera Padalarang,
  5. Kamera Nagrek,
  6. Kamera Kadipaten,
  7. Kamera Sumpiuh,
  8. Kamera Karang Anyar,
  9. Kamera Cileunyi,
  10. Kamera Ciamis,
  11. Kamera Cikampek,
  12. Kamera Simpang Jomin,
  13. Kamera JT Losarang,
  14. Kamera JT Balongandu,
  15. Kamera Cirebon,
  16. Kamera JT Tanjung Brebes,
  17. Kamera Pintu Tol Sadang,
  18. Kamera JT Kulwaru,
  19. Kamera Terminal Merak,
  20. Kamera Pintu Tol Merak,
  21. Kamera JT Gentong,

http://124.81.82.136/ltmc2008/kamera/streaming-cctv.php

http://www.seasite.niu.edu/flin/2211rbw01d%5B1%5D.JPG

Jancuk...!”

Meskipun sudah sering, belakangan bahkan terlalu sering, mendengar umpatan khas arek itu, tak pelak saya benar-benar terperangah. Beberapa malam yang lalu, Bang Ro’is, demikian dia biasa kami panggil, tiba-tiba mengumpat di depan saya, dengan nada yang benar-benar menakutkan. Bukan menyerapahi saya tentunya, tapi melepas kesal atas apa yang tampaknya baru saja dia alami.

Onok opo Bang? La opo, sampeyan kok kemropok koyok ngono? Sik tas teko moro-moro kok misuh-misuh (Ada apaan, Bang? Kenapa nih, sampeyan kok meledak-meladak kayak begini? Baru datang kok langsung marah-marah)),” saya coba se-casual mungkin mengorek keterangan dari dia. Bang Ro’is, sambil mengatur nafas yang masih kelihatan tersengal-sengal, mulai bercerita. “Wanine mek interogasi rakyat. Lha Bakrie iku po'o coba interogasien. Hmm, apane? (Beraninya cuma menginterogasi rakyat. Kenapa tidak Bakrie, coba dia diinterogasi),” semprotnya masih dengan nada tinggi.

Sik talah, genah-genah, aku lak yo bingung seh ngrungokno crito sampeyan (Sebenter dulu, santai. Aku kan juga bingung mendengarkan cerita sampeyan),” saya coba lagi dengan nada seadem mungkin. “Sik, ngrokok iki sik (Sebentar, merokok dulu nih).” Saya sodorkan dan nyalakan rokok kretek yang kami sama-sama gemari. Setelah dua kali kebulan, saya coba ajak bicara lagi. “Sing diinterogasi iku sopo? Terus sopo sing nginterogasi? (Yang diinterogasi siapa? Terus yang menginterogasi juga siapa?)”

Tampaknya Bang Ro’is sudah lumayan tenang. Sambil menikmati rokok kretek, dia pun mulai cerita. Ternyata dia baru saja diapeli dua orang intel, pas lagi nongkrong di Posko Desa Siring. Ihwal mulanya adalah spanduk yang dia pasang di pinggir Jalan Raya Porong, yang isinya Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL) adalah kelompok pengecut dan pengkhianat warga. Sementara, di bagian bawah spanduk, tidak seperti lazimnya spanduk yang mencamtumkan nama lembaga atau kelompok, tercantum dengan jelas satu-satunya tanda tangan: Bang Ro’is, Desa Siring.

Karena spanduk itulah, kedua intel itu mendatangi Bang Ro’is, dan menanyai dia macam-macam. Mulai dari kenapa dia memasang spanduk itu, kenapa ada posko warga, kenapa enggak mau ikut resettlement seperti yang ditawarkan Lapindo, sampai kenapa ada poster almarhum Cak Munir dan majalah-majalah dari Kontras di posko warga.

Lha, pancen Munir mbelani wong cilik kok. Salah tah masang gambare. (Lha memang Munir membela wong cilik kok. Apa salah memasang gambarnya?)” terang Bang Ro’is kepada kedua intel itu. “Minggu wingi aku teko Jakarta ketemu ambek wakeh LSM sing mbelani korban, terus mulihe mampir nang kantore Kontras. Opo'o lek aku digawani majalah? (Minggu kemarin saya datang ke Jakarta, bertemu banyak teman LSM yang membela korban. Lalu pulang mampir kantor Kontras. Memang salah kalau saya dibawain majalah?)

Masih dengan nada yang tidak ada ketakutan sedikit pun, Bang Ro’is bahkan menantang intel-intel itu untuk menangkap dia kalau memang dia dianggap bersalah. “Ayo, gowoen ae aku. Malah seneng aku, tak buka' blak kabeh engko nang Polda. Ojo tanggung-tanggung lek arep nyekel aku. Gak bakalan aku mblayu, hmmm, iki lho Bang Ro’is, mbelani wong cilik (Ayo, ambil saja saya. Justru saya senang, saya buka habis-habisan nanti di Polda. Tidak usah tanggung-tanggung kalau mau menangkap saya. Saya tidak bakal lari. Ini lho Bang Ro’is, membela wong cilik.),” terangnya sambil tergelak, karena menurut dia, setelah itu kedua intel itupun ngeloyor pergi.

”Lha iyo,” selidik saya, “sampeyan kok wani-wanine ngomong GKLL iku pengecut dan pengkhianat, dasare iku opo? Sampeyan nduwe buktine tah? (Lha iya, sampeyan kok berani-beraninya bilang GKLL pengecut dan pengkhianat, apa dasarnya?)” Ternyata saya melontarkan pertanyaan yang keliru (atau malah justru tepat?).

“Koen iku yo opo seh,” karena nada suaranya tiba-tiba meninggi lagi, “kabeh wong sak Porong iki ngerti lek poro pentholane GKLL iku bajingan kabeh. Podho ae ambek Minarak ambek Andi Darussalam iku. Lha, termasuk Nun barang iku yo pengkhianat warga pisan (Kau ini gimana sih. Semua orang di Porong tahu kalau pimpinan GKLL itu bajingan semua. Sama saja dengan Minarak, sama saja dengan Andi Darussalam. Lha, termasuk Nun itu, dia juga pengkhianat warga).” Cukup terperangah juga aku mendengar kata-katanya yang terakhir.

Sopo Bang?" tanya saya, agak tidak yakin dengan kata “Nun” yang saya dengar. Dalam hati, kalau orang yang dekat dengan GKLL, Nun yang dimaksud berarti kan Emha Ainun Nadjib. Lha bukannya Cak Nun katanya membela warga korban lumpur? Ini mesti ada yang enggak beres, saya pikir.“Nun sopo seh?” Saya coba memastikan kecurigaan saya.

Lha sopo maneh. Yo Ainun Nadjib iku. Jarene ae mbelani rakyat. Sampek wong-wong akeh disumpah-sumpah koyok maling. Saiki dekne dewe sing dadi garong. Coba lek wani mreneo, sak iki ngadepi wong korban lumpur. Lek wani kene disumpah wong akeh lek de’e gak mlokotho awak-awak ndewe iki (Lha siapa lagi. Ya Ainun Nadjib itu. Katanya saja membela rakyat. Sehingga semua orang disumpah seperti maling. Sekarang, dia sendiri yang jadi garong. Coba kalau berani, ke sini, sekarang hadapi warga korban lumpur. Kalau berani, ke sini, disumpah orang banyak jika dia tidak membohongi kita-kita ini),” sembur Bang Ro’is, dengan nada semakin menakutkan.

Ya ampun, gumam saya, kok Cak Nun yang dulu kata koran dipuja-puja sebagai 'pahlawan' korban lumpur itu, kok berubah menjadi garong dan disamakan kebejatannya dengan Lapindo dan Andi Darussalam. Saya coba membantah, masih tidak percaya dengan kata-kata Bang Ro’is.“Sik ta lah, sampeyan ojo sembarang nuduh uwong lho ya. Opo maneh wong alim, kuwalat temenan lho (Sebentar dulu, sampeyan jangan sembarangan menuduh orang lho, ya. Apalagi, ini orang alim. Kuwalat lho nanti.).

”Kuwalat telek kocing. Yo Nun iku sing engko kuwalat. Kedosan ambek wong-wong Darjo. Heng, iki lho deloken dewe surat-surat iki. Opo ngene iki jenenge lek gak dhobol (Kuwalat tahi kucing. Ya Nun itu yang nanti kuwalat. Karena berdosa kepada orang Sidoarjo. Nih, lihat sendiri surat-surat ini. Apalagi namanya begini ini kalau tidak brengsek),” Bang Ro’is, bersungut-sungut, sambil membanting segepok berkas di dalam map plastik yang dari tadi dia tenteng.

Di dalam berkas-berkas itu, ada kronologis, bagaimana dari awal warga sudah diyakinkan oleh Cak Nun bahwa Lapindo akan membeli tanah dan bangunan mereka, meskipun mereka hanya memegang bukti kepemilikan Letter C, Pethok D atau SK Gogol. Bahkan untuk meyakinkan para pihak, warga sampai harus disumpah bahwa luas bangunan mereka adalah sebenar-benarnya yang ada di berkas pengajuan.

Yang saya baru tahu, untuk mengurus proses pencairan uang muka 20 persen itu, ternyata warga dikutip biaya2 yang besarnya bervariasi mulai dari 1 persen dari nilai aset dan bangunan mereka. Dan yang membuat saya benar-benar terperangah adalah adanya berkas laporan keuangan dari masing-masing koordinator desa bahwa mereka 'menyetor' 30 juta kepada Cak Nun dan hal itu disampaikan dan ada bukti pengeluarannya ditunjukkan secara terbuka kepada warga.

Halah, ini beneran apa ngarang sih. Aku baru mau mengkonfirmasikan hal itu kepada dia, namun langsung di potong, "sik, woco'en kabeh, cekne koen percoyo. Cekne gak dibujuki koran ambek TV ae." (Tunggu dulu, baca dulu semuanya, biar kamu percaya. Biar tidak selalu dibohongi koran dan TV). Aku pun langsung melanjutkan memelototi satu persatu berkas-berkas itu. Ada surat kuasa kepada Cak Nun, ada data rekapan per desa dari warga yang memberi mandat kepada Cak Nun, ada berkas surat yang pakai cap jempol.

Aku pun langsung teringat pembicaraan telepon dengan Cak Nun beberapa bulan silam ketika aku menanyakan, kok Cak Nun mengaku dimandati 94% korban lumpur, atau berjumlah 45 ribuan warga. "Lha sampeyan carane ngerti teko endi?" (Anda tahunya dari mana), tanyaku waktu itu. "Lho, yo enek surate Win, lek nggak moso aku yo wani ngaku2 ngono?", (Ya ada suratnya Win, sebab kalau tidak begitu, masa saya berani mengaku-ngaku), jelas Cak Nun. "Petangpuluh ewu surat?"(empat puluh ribu surat?), kejarku belum yakin.

"Yo dudu jumlah jiwa rek, tapi berdasar KK (bukan jiwa, tapi KK)," tambah Cak Nun. Masih belum percaya, aku teruskan, "Telulas ewu surat kuasa Cak (Sebanyak 13ribu surat, Cak)?" menyebut kira-kira jumlah KK yang menjadi korban. "Yo gak telulas ewu surat tak cekel kabeh, tapi enek rekapane teko arek-arek (para koordinator GKLL, maksudnya) iku”. (Ya ndak semua tiga belas ribu surat diserahkan aku., tapi ada rekapannya di anak2 GKLL)

Saat itu aku sudah bilang ke Cak Nun, "Lho sampeyan kok wani-wanine ilo percoyo ambek sing ngunu iku."(Kok berani percaya dengan yang seperti itu?) Aku mencoba menjelaskan kemungkinan adanya kemungkinan manipulasi dari para pimpinan itu terhadap keinginan sebagian besar warga. "Lek sak ngertiku cak, karena aku yo wong ndeso, wong-wong ndeso iku karepe gak koyo sing disampekno arek2 iku," (setahuku, karena aku juga dari desa, orang-orang desa itu tuntutannya tidak seperti yang disampaikan anak2 GKLL itu).

"Lan maneh, kit kapan sing jenenge wong ndeso iku kabeh ngerti surat-suratan. Lha wong moco nulis ae akeh sing nol pothol."(Lagipula, mulai kapan orang-orang desa semua bisa membuat surat. Baca tulis aja tidak bisa), kunyatakan keyakinanku. Pada saat itu, Cak Nun mengajak aku dipertemukan langsung dengan tokoh2 GKLL untuk mengklarifikasi kecurigaan2ku tadi. Tapi entah kenapa, pertemuan itu tidak pernah terjadi, dan Cak Nun sekarang diserapahi (paling tidak menurut Bang Ro’is) oleh ribuan orang Sidoarjo.

Aku jengah juga mbayangin hal itu. Sebab meskipun tidak dekat, tapi aku bisa dibilang pernah kenal dengan Cak Nun dan juga anaknya. Kalau Bakrie disumpah serapah, dido’ain yang jelek, anak keturunannya tidak akan bahagia, aku sudah terlalu sering dengar. Dan demi melihat perilaku mereka, gimana aku tidak memihak korban.

Tapi mbayangin Cak Nun, atau Mbak Novia, atau Noe atau calon istri atau anaknya kelak, ikut-ikutan disumpahin ribuan korban lumpur, aku ngeri sendiri. Padahal katanya do’a orang yang teraniaya akan mujarab. Gimana kalau sampai misalnya, mengutip balesan sms Cak Nun kepada orang2 yang dulu menuduh dia macem2, akibat do’a orang yang teraniaya itu, anak turune Cak Nun beneran cangkem-e pethot,sikile pethor, angel uripe, kisruh rumah tanggane. Masya Allah


Kembali ke berkas-berkas yang aku pelototi semalam, keraguan dan kecurigaan lamaku tentang kabar mandat memandati Cak Nun itu sedikit banyak terjawab. Meskipun itu juga menimbulkan beban pikiran yang baru. Ada uang 30 juta dari masing-masing desa untuk Cak Nun. Ada bukti pengeluaran, dan warga meyakini selama berbulan-bulan ini (kan gak ada klarifikasi apapun dari dia) bahwa Cak Nun sudah menerima uang dari mereka.

Sebagai bentuk tanda terima kasih memang, tapi juga sebagai persekot. Untuk apa? Ya agar Cak Nun membantu memuluskan pelunasan sisa pembayaran yang 80 persen, yang mestinya mulai jatuh tempo bulan April-Mei 2008 yang lalu.

Tetapi kemudian kan Lapindo mulai bermanuver. Mulai menyiapkan lahan untuk membangun perumahan yang nantinya akan dijual secara paksa kepada warga. Dibingkai sehalus mungkin sampai bahkan semua pejabat kompak meyakinkan, warga akan dibayar tunai. Perumahan yang dijual Lapindo hanya untuk yang bersedia, dan tidak akan ada paksaan.

Mendekati saat-saat pelunasan, tidak kunjung jelas juga bagaimana mekanisme pelunasan akan dilakukan. Yang muncul malah Lapindo kian gencar mempublikasikan di media massa, bahwa mereka tengah menyiapkan perumahan bagi korban lumpur Lapindo. Betapa ber-budi-nya. Tidak terbukti bersalah, tetapi menyediakan rumah kepada korban, lebih bagus lagi kualitasnya. Coba kurang apa.

Tapi warga sudah kenyang dengan muslihat licik dan akal bulus Lapindo. Warga merapatkan barisan, berkonsolidasi antar korban yang berkepentingan sama, dan kemudian membentuk Gabungan Korban Lumpur Lapindo. Wah, agak tenang nih, pikir sebagian besar warga, ada organisasi yang mewakili. Dan satu lagi yang membuat warga semakin tenang, kan masih ada Cak Nun. Pahlawan pembela korban, yang bisa membuat Presiden menangis 3 kali dan dilanjutkan dengan berkantor di Juanda selama 3 hari .

Dibikinlah lagi mandat baru kepada Cak Nun, untuk membantu penyelesaian pembayaran 80 persen. Disertai dengan sebuah ikrar dan perikatan sumpah, tidak akan ridha dunia akhirat kalau Lapindo tidak membayar. Cak Nun ternyata menerima amanah maha berat itu (atau paling tidak bagi warga, Cak Nun tidak menolak). Maka pungutan pun dikutip lagi (entah untuk apa karena di tahapan ini mestinya sudah tidak perlu lagi pengurusan berkas2).

Istighotsah, kebulatan tekad, sampai dipaksa beli kaos yang kemahalan dilakukan oleh warga demi menuntut pembayaran sisa 80 persen. Sementara Lapindo sudah semakin jelas dan mengerucut tidak akan membayar sisa 80 persen bagi aset yang tidak bersertifikat (lalu kenapa dulu mereka mau membayar yang 20 persen kalau memang non sertifikat tidak sah). “Gak mungkin nek Nun gak paham sing ngono-ngono iku, wong de’e sing mimpin” (tidak mungkin Nun tidak mengetahui hal-hal itu, sebab dia yang memimpin), sungut Bang Ro’is

Masih saja ada kelit yang bisa diambil Lapindo. Karena kami baik hati, biarlah yang 20 persen itu dianggap sebagai hadiah kepada korban. Gila. Tetapi toh tidak ada yang mengomentari. Ya memang tidak banyak yang tahu, wong media juga bungkam, dan termakan pi-ar Lapindo yang yahud punya.

Sampai kemudian, hanya beberapa hari setelah peringatan 2 tahun semburan lumpur yang ditandai dengan penguatan tekad menuntut pembayaran tunai, muncul surat yang paling sakti dalam sejarah negeri ini. Selembar surat pernyataan yang ditandatangani direktur sebuah perusahaan yang tidak riil, dengan beberapa 'perwakilan' warga, disaksikan oleh Cak Nun, mengalahkan Perpres, Keputusan MA, dan SK Kepala BPN pusat.

Belum sempat warga pulih dari kekagetannya akibat perwakilan dan ‘pahlawan’nya tiba2 mengkhianati mereka, mereka dihadapkan pada ultimatum ala deklarasi perang melawan teroris dari George W. Bush. You're either with us or against us. "Sampeyan arep melu GKLL nurut karepe Lapindo opo milih gak dibayar?" Kira-kira begitu yang disampaikan para operator lapangan mereka, yang kian menambah kepanikan warga.

Pada situasi seperti itu, kok ya Lapindo masih bisa jualan kecap dengan acara peresmian perumahan (yang hanya berjumlah 11 biji) sekaligus penyerahan kunci rumah (literary benar2 hanya kunci). Yang muncul, berita Aburizal Bakrie (yang datang ke Sidoarjo sembunyi2 ala tikus got, demi seuntai publisitas) merangkul warga yang penuh rasa terima kasih bahagia karena mendapat rumah yang jauh lebih baik dari rumahnya di desa, dengan tulisan besar2, JANJI ITU AKHIRNYA TERWUJUD!!! Entah apalagi yang bisa dibilang.

Dan pada saat warga sudah sedemikian terpuruk, tidak ada kabar apapun mengenai surat mandat yang diberikan kepada Cak Nun. Tidak ada upaya apapun untuk mempertanggung- jawabkan mandat yang sudah diberikan oleh rakyat yang sudah berada di titik nadir itu. Ataupun sekedar penjelasan atau tegur sapa, yang katanya diajarkan agama.

Aku menyelesaikan membaca berkas-berkas itu, melihat dengan tatapan hampir tidak percaya ke arah Bang Ro'is. Seolah menegaskan, Bang Ro’is menutup, "Iyo kan, ngerti kan sak iki? Lek wes ngerti ngene, lek jaremu kiro2 yo opo? Opo gak pancen bajingan kabeh, cekne tego2ne mangan daginge rakyat Darjo sing wes gak nduwe opo2 ngene iki" (Betul kan, paham kan kamu sekarang. Kalau sudah paham, menurutmu kira-kira gimana? Apa tidak memang bajingan semua. Kok bisa tega makan daging rakyat Sidoarjo yang sudah tidak punya apap-apa lagi)

Aku hanya diam, dan bergumam pelan. Melakukan hal yang paling lazim yang biasa dilakukan manusia didalam ketidakberdayaan.

-Duh gusti, nedi sepunten menawi kulo pun dzolim lan mboten saged ningali kesaeyan tiyang. Ugi menawi kulo sampun suudzon kaliyan dulur sing niyate sae. Tapi mungguho dipun paringi keadilan dumateng sinten kemawon kang damel puluwan ewu dulur2 kulo teng Darjo ngalami penderitaan ingkang mekaten awrate!!!- (Ya Tuhan, ma’afkan hambamu ini seandainya saya telah sudah berlaku dzalim kepada orang lain, dan tidak mampu melihat kebaikan orang. Juga seandainya saya sudah berburuk sangka kepada saudara yang berniat baik. Tapi saya juga mohon keadilan-Mu bagi siapapun yang menyebabkan puluhan ribu saudara-saudara di Sidoarjo mengalami penderitaan yang sedemikian tak tertahankan)

Saya terdiam sejenak menyerapi do'a singkat itu, mencoba mendinginkan hati dan berusaha arif dan legowo. Meski akhirnya tetap saja tidak tertahankan desakan itu,

" JANCUK...!!!"

Catatan Tambahan :

Poin 5 nota kesepahaman MLJ dan GKLL yang disaksikan Cak Nun berbunyi : “PT Minarak Lapindo Jaya tidak akan melaksanakan pembayaran cash and carry kepada warga korban lumpur yang bukti kepemililikannya Pethok D/Letter C/SK Gogol dalam kondisi dan situasi apa pun.”

Padahal hanya bilangan minggu sebelumnya, Cak Nun menerima mandat dari ribuan korban agar memperjuangkan pembayaran tunai untuk sisa pembayaran 80 persen yang segera akan jatuh tempo

Pada tanggal 16 Juli 2008 dalam sebuah acara yang bertajuk Diskusi Evaluasi Tim TP2LS DPR terhadap program cash and resettlement dari MLJ (yang entah kenapa lolos dari liputan hampir semua media), Cak Nun dikutip Tribun dan dimuat di website padhangmbulan.com, mengatakan :

”Mereka yang dibayar 20 persen saja sudah makmur apalagi kalau sampai sisa pembayaran 80 persen dibayar. Padahal, apa yang sebenarnya terjadi pada Lapindo, wong belum ada yang diputuskan bersalah tapi sudah dibayar ganti rugi. Ibarat kata, Lapindo itu sudah memberikan sadakoh kepada warga," katanya.

Pernyataan yang tidak hanya melukai perasaan korban, tetapi membuat beberapa warga yang saya temui menyatakan niatnya untuk mampu membunuh.

Mempercepat Koneksi dengan Mematikan Cadangan Bandwidth dari Windows XP Pro

Secara default windows XP membatasi 20% bandwidth kita..

Berapapun cepatnya koneksi internet maupun network pada computer dengan Windows XP akan dibatasi dengan 20% untuk default koneksi network (Qos - Quality of Service) dari WIndows XP. Windows sengaja membatasi koneksi bandwidth pada sistem network maupun internet, tujuannya untuk cadangan bagi paket penting.

Seberapa pentingnya dari setting default, tentu tidak semua orang memerlukan. Kecepatan network tentunya harus maksimum terlebih pada koneksi internet yang melempem di Indonesia.

Cara mematikan sistem cadangan dari Bandwidth Windows

1. Run dengan perintah gpedit.msc

2. Masuk kebagian setting Administrative Templates, Network, QoS Packet seperti gambar dibawah ini.

3. click dibagian Limit reservable bandwidth, setting ke Enable dan matikan Bandwidth Limit dalam % menjadi 0 [nol].


4. Click Apply dan restart.

Udah dech… moga berguna

Sumber: http://obengware.com/

--------------------------------------------------------------------------------

Notes : Cobalah lumayan terasa akibatnya kok :)


Manusia Kawat

Noorsyaidah Mulai Diperiksa Dokter
Laporan: Tribun Kaltim/Muhammad Khaidir
Jumat, 11-07-2008 | 15:00:21

SAMARINDA, BPOST - Noorsyaidah, warga Jl Merdeka 3 Samarinda yang dari perutnya mengeluarkan kawat, Jumat (11/7) pagi dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Syahranie. Ia memulai tahap pengobatan.

Tim dokter yang dipimpin langsung oleh Direktur RSUD AW Syahranie, dr Ajie Syirafuddin menjemput Noorsyaidah di rumahnya sekitar pukul 08.00 WITA. Awalnya, keluarga sempat menolak, karena keluarga khawatir dengan kondisi mental Noorsyaidah.

Tetapi tim dokter yang beranggotakan tujuh orang berhasil merayu Noorsyaidah. Pukul 09.30 WITA, Noorsyaidah tiba di RSUD AW Syahranie, Jl Dr Soetomo, Samarinda. Noorsyaidah kemudian masuk ke ruang MSCT Scaning dan berlangsung selama 20 menit. Setelah itu ia masuk ke ruangan sinar X.

"Ini masih tahap awal. Kami baru melakukan diagnosa. Belum tahu hasilnya, karena masih mengumpulkan data-data. Setelah proses ini selesai, akan kami rapatkan. Hasilnya nanti kami informasikan kepada keluarga. Untuk langkah selanjutnya kami serahkan kepada keluarga, apakah mereka siap atau tidak," ujar Ajie.

Sementara ini keluarga masih belum mau Noorsyaidah menjalani rawat inap. "Kondisi Noorsyaidah masih labil. Kami khawatir kondisi mentalnya, makanya kami ingin dia di rumah dulu," ucap Siti Robiah, kakak Noorsyaidah yang juga datang ke RSUD AWS.

Siti Robiah mengatakan, hasil diagnosa dokter nanti akan mereka diskusikan. "Keluarga akan mendiskusikan terlebih dahulu sebelum mengambil langkah selanjutnya, " ucap Siti.

Noorsyaidah pun mengaku tegang. "Saya agak tegang. Doakan saya sembuh ya," ucapnya lirih. Saat berita ini diturunkan, Noorsyaidah sudah diantar kembali ke rumahnya oleh tim dokter RS AWS.

---------------------

Derita ‘Manusia Kawat’ (1), Aku Juga Ingin Menikah

Jumat, 11-07-2008 | 01:30:14

TUJUH belas tahun sudah, Noorsyaidah (40) menahan rasa sakit. Dia menderita penyakit aneh, di perut dan dadanya bermunculan puluhan batang kawat.

“Mungkin Allah SWT ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa dengan kekuasan-Nya apa pun bisa saja terjadi dan sayalah orang yang dipilih untuk memperlihatkan kekuasan-Nya itu. Maka itu saya harus menjalaninya dengan tabah,” ujarnya dengan lirih saat ditemui di rumah kakaknya di Samarinda Ilir, Kaltim, kemarin.

Keanehan itu dialami Noor sejak kuliah di Fakultas Sospol Universitas Mulawarman. “Dulu hanya sekitar seminggu kawat-kawat itu berjatuhan sendiri dan hilang. Sekitar sebulan kemudian bermunculan lagi. Nah, sekarang ini sudah sekitar enam bulan lebih, kawat-kawat di perut saya ini tidak ada yang jatuh atau hilang. Jadi, sungguh menderita sekali,” katanya.

Segala upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang ‘pintar’ sudah dilakukannya. Namun, penyakit tersebut tetap tak sembuh. Operasi mungkin sudah puluhan kali dijalani. Tapi kawat-kawat itu setelah dicabut dengan cara medis tak mau hilang dari dirinya.

“Semua orang bilang bahwa penyakit saya ini terkena santet atau semacamnya, tapi berani jujur bahwa saya ini tak pernah punya musuh atau menyakiti orang lain. Makanya, dokter atau orang pintar yang mengobati penyakit saya ini juga bingung untuk menyembuhkannya. Sekarang saya pasrah kepada Allah SWT,” ujar perempuan yang menjadi guru TK Alquran di Sangatta, Kutai Timur itu.

Bentuk kawat yang tumbuh di badan Noor memang tak berbeda dengan jenis kawat lazimnya. Besarnya seperti peniti berukuran besar. Saat Tribun Kaltim (group BPost) memegang salah satu kawat yang pernah jatuh dan disimpan oleh Noor, kawat tersebut seperti kawat biasa yang mudah berkarat, warnanya kecokelatan.

Panjangnya bervariasi, mulai dari sepuluh sentimeter hingga duapuluh sentimeter. Ada yang hanya satu sisinya yang runcing, namun ada pula yang kedua sisinya runcing.

Selama di Samarinda, Noor sebenarnya ingin sekali menonton langsung Pembukaan PON XVII di Stadion Utama Palaran. Namun, karena takut kawat-kawat di tubuhnya akan mengenai orang lain, Noor hanya menyaksikan geladi bersih pada 3 Juli 2008 lalu. “Yang penting bisa melihat Stadion Palaran yang katanya megah itu, Alhamdulillah. (Menonton) Pembukaan cukup di televisi saja,” ujarnya.

Kendati selalu tabah dan tetap suka bergaul dengan orang lain, namun untuk urusan asmara atau percintaan, Noor tetap tak bisa menyembunyikan rasa rendah dirinya. Hingga kini dia belum memiliki calon pasangan hidup karena khawatir sang suami menyesal dengan penyakit aneh yang dideritanya.

Ketika remaja hingga kuliah di Samarinda, Noor dikenal sebagai perempuan yang tomboi. Dia tak pernah sedikit pun membedakan orang yang akan dan telah menjadi temannya sehari-hari. Seperti perempuan pada umumnya, Noor juga pernah memiliki pujaan hati atau pacar.

Selain, di kalangan teman-temannya, dia dikenal memiliki jiwa sosia yang tinggi. Pernah ada teman yang tak mampu membayar uang kuliah, tanpa meminta imbalan apa pun Noor langsung membantu dengan ikhlas.

“Saya sebagai perempuan normal tentu mau menikah dan punya anak. Tapi yah... karena penyakit aneh ini membuat saya merasa tak memikirkannya lagi. Lebih baik fokus menjalani hidup saya selanjutnya,” ujar Noor.

Beruntung anak kelima dari enam bersaudara ini memiliki keluarga dan teman-teman dekat yang juga tabah dan mau memaklumi sisi kehidupannya yang pahit itu. Bahkan, Kakak kandung Noor, Hj Siti Robiah mengatakan adiknya itu justru sering memberikan motivasi hidup kepada teman-temannya. (TK)

------------------------------------------------

Derita ‘Manusia Kawat’ (2), Terpaksa Sujud di Atas Bantal

Sabtu, 12-07-2008 | 01:33:21

NOORSYAIDAH tetap tabah menjalani hidup. Salat lima waktu tak sekali pun ditinggalkan. Awalnya, masih bisa salat dengan berdiri. Namun, posisi itu membuat perutnya nyeri. Noor lalu melakukannya dengan duduk. Tiga bantal ditumpuk di depannya untuk menahan kepalanya saat sujud agar kawat-kawat yang keluar dari perutnya tidak tertekan

Sejak kecil Noor telah dididik oleh orangtuanya untuk selalu ingat kepada-Nya. Karena itu, dia mencoba untuk tetap tabah dan meyakini bahwa penyakit aneh yang dideritanya ini adalah atas kehendak Allah.

Noor salat dengan posisi duduk, tetap menggunakan mukena (pakaian salat perempuan). Dia pernah kembali mencoba salat dengan posisi berdiri, tetapi hal itu membuatnya kesulitan.

"Ini adalah ujian dari Allah SWT, bagaimana saya harus diuji apakah sanggup untuk menjalaninya atau tidak. Alhamdulillah, khususnya persoalan salat yang harus mengeluarkan gerak itu, saya tetap bisa melaksanakannya, mudah-mudahan dengan izin Allah juga saya akan tetap bisa melaksanakannya," kata Noor.

Bagi keluarganya, Noor dikenal sangat taat menjalankan perintah agama. Dia tak pernah bosan mengingatkan keponakan-keponakannya untuk salat bersama-sama jika azan telah dikumandangkan.

Ketekunan Noor terhadap persoalan agama juga terlihat di Sengatta, Kutai Timur, Kaltim. Dia menyalurkan jiwa sosialnya sebagai seorang guru agama. "Banyak yang berkonsultasi soal agama dengan Noor," kata sang kakak, Hj Siti Robiah.

Noor sangat menginginkan kesembuhan tetapi dia menginginkan cara penyembuhan itu tidak keluar dari akidah agama Islam.

"Saya mendapat ujian penyakit ini karena Allah SWT yang mengizinkannya. Seandainya Allah tidak mengizinkan, saya yakin tidak ada ujian seperti yang saya alami ini. Artinya saya pun sembuh dengan izin Allah," ujar Noor.

Simpati terus berdatangan. Direktur Utama RSU Abdul Wahab Syahranie Samarinda Ajie Syirafuddin, sehari setelah melihat sendiri perut Noor yang mengeluarkan kawat, langsung menyiapkan sebuah kamar khusus agar perempuan berusia 40 tahun itu bisa mendapat perawatan intensif.

Menurut Ajie, melalui perawatan yang intensif, diharapkan Noor bisa terbebas dari jenis penyakit yang diakuinya baru kali ini muncul dalam dunia medis. Tak cuma kamar khusus, Ajie juga siapkan tim khusus. Tim ini terdiri atas enam dokter spesialis dan seorang ulama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda.

Para dokter yang menjadi anggota tim merupakan dokter terbaik di bidangnya. Ada ahli bedah, ahli bedah tulang, ahli jiwa, ahli laboratorium, ahli rontgen, dan ahli penyakit dalam. "Kita full team, makanya kami kerahkan semua para dokter spesialis terkait untuk penanganan Ibu Noor itu. Bahkan, semua perangkat medis yang dimiliki RSU AW Syahrani akan kami turunkan," kata Ajie.

Terkait keberadaan ulama dalam tim, dia mengatakan, penyakit yang diderita Noor belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan tidak mungkin penyakit itu muncul akibat adanya kekuatan supranatural. Kisah yang dikemukakan Noor atau keluarganya juga mengisyaratkan tidak tertutupnya kemungkinan itu.

Jumat (11/7) pagi, Noor memulai tahap pengobatan. Begitu tiba di rumah sakit, dia langsung masuk ke ruang MSCT Scaning selama 20 menit. Setelah itu, dia masuk ke ruangan sinar X.

"Ini masih tahap awal. Kami baru melakukan diagnosa. Belum tahu hasilnya, karena masih mengumpulkan data-data. Setelah proses ini selesai, akan kami rapatkan. Hasilnya nanti kami informasikan kepada keluarga. Untuk langkah selanjutnya kami serahkan kepada keluarga, apakah mereka siap atau tidak," ujar Ajie.

Sayang, pihak keluarga masih belum mau Noor menjalani rawat inap.

"Kondisi Noor masih labil. Kami khawatir kondisi mentalnya, makanya kami ingin dia di rumah dulu," ucap Siti Robiah. Jumat sore, Noor kembali ke rumah kakaknya di Samarinda.

Bagaimana sikap Noor? "Saya agak tegang. Doakan saya sembuh ya," katanya dengan lirih. Apa sebenarnya penyakit Noor dan bagaimana pula pandangan paranormal? Ikuti terus kisahnya di BPost. (TK)

Source : Banjarmasin Post

880 Ineks Dicampur Serbuk Kopi

880 Ineks Dicampur Serbuk Kopi
Sabtu, 12-07-2008 | 01:00:20

BANJARMASIN - Kiriman 880 butir ineks dan 1,12 ons sabu dari Jakarta berhasil diamankan petugas Sat II Direktorat Narkoba Polda Kalsel bersama pemiliknya, Hamdani (45), Jumat (11/7) pukul 14.00 Wita.

Kendati dua barang haram itu dimiliki Hamdani seorang, tapi petugas Narkoba Polda Kalsel menemukannya di tempat yang berlainan.

Ineks misalnya, petugas menemukan secara tidak sengaja. Yakni saat mereka mengobok-obok rumah Hamdani di Jl Sutoyo S Gg Purnawirawan RT75, RW07, Kelurahan Pelambuan, Banjarmasin Barat.

Saat itu, petugas tengah mencari barang bukti sabu di rumah Hamdani, secara tidak sengaja mata petugas melihat sebuah paket besar di sudut ruang tamu kediaman Hamdani yang dikirim Sungkono, warga Gunung Sari II Jakarta Pusat.

Kotak yang pada bungkusnya bertuliskan “H Abdul Karim warga Jl Sei Mesa Gg Walfarri RT16 Banteng” ini langsung dibuka petugas. Ternyata paket tersebut berisi kopi.

Oleh petugas, kopi yang ada didalam kaleng besar tersebut diaduk-aduk. Tidak lama kemudian menyembul sebuah bungkusan. Begitu bungkusan itu dibuka, ternyata didalamnya ada ineks berwarna abu-abu tanpa logo.

“Dari hasil perhitungan sementara inkes tersebut berjumlah 880 butir,” kata Direktur Narkoba Kombes Drs Sukirman.

Minuman Cina

Informasi didapat, sebelum ineks dicampur serbuk kopi tersebut ditemukan, petugas Direktorat Narkoba terlebih dulu mendapat informasi akan adanya barang haram masuk ke Kalsel. Barang tersebut diantar via ekspedisi di Jl Mawar.

Karena informasi 99 persen benar, Kasat II AKBP Dwi Tjahyono SIK langsung turun ke lapangan bersama tiga kanitnya yakni, AKP Yanto, AKP Joko dan AKP Tarigan.

Sekitar pukul 15.00 Wita, petugas melihat orang yang diincar, Hamdani, muncul dan mengambil paketnya.

Begitu Hamdani memegang paket bertuliskan Armin, warga Jl Sutoyo S Gg Purnawirawan RT26 RW07 dan pengirim atas nama Beny warga Jl Mangga Besar XIII A/17 Jakarta, petugas langsung bergerak dan menyergapnya. Hamdani pun tak berkutik.

Paket yang direbut dari tangan Hamdani langsung dibuka. Ternyata di dalamnya berisi minuman dari China. Namun begitu diteliti lagi, di dalam paket itu juga ada sabu yang terdiri atas 12 paket sedang dan 1 paket besar.

Temuan paket sabu ini dikembangkan petugas. Hamdani langsung digiring petugas menuju rumahnya. Siapa tahu ada paket sabu lagi.

Awal Hamdani berbelit menunjukan rumahnya. Malah petugas sempat dibawanya ke Kelayan. Tapi setelah didesak, Hamdani akhirnya menunjukan rumahnya di Jln Sutoyo S Gg Purwawirawan.

Saat melakukan penggeledahan di rumah inilah, petugas yang tengah mencari barang bukti sabu malah mendapat 880 butir ineks. Dengan ditemukannya sabu dan ineks tersebut Hamdani akan dijerat dengan pasal 59 UU Ri No5 Tahun 1997 dan pasal 62 UU RI No5 Tahun 1997. (dwi)

http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/40346/635/

Dua PRT Dapat Hadiah Rp 9 M

Dua PRT Dapat Hadiah Rp 9 M
Laporan: KOMPAS.com
Sabtu, 12-07-2008 | 16:05:15

CENTRAL ISLIP, BPOST - Hakim Federal Amerika Serikat memberikan hadiah 1 juta dolar AS atau lebih dari Rp 9 miliar kepada dua pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia yang mengalami perbudakan di negara itu.

Hakim Arthur Spatt mengatakan, Jumat (11/7) waktu setempat , uang sebesar itu merupakan upah Sapirah dan Enung yang selama bertahun-tahun tidak dibayarkan majikannya, Varsha dan Mahender Sabhnani.

Pasangan orang kaya asal Long Island ini selama bertahun-tahun memperbudak kedua perempuan malang itu.

Kepada hakin, Sapirah dan Enung mengaku dipukuli, disayat pisau, dan dipaksa mandi dengan air sedingin es atas setiap kesalahan yang mereka lakukan.

Atas perbuatannya, Varsha Sabhanani diganjar hukuman 11 tahun penjara, sementara sang suami divonis 3 tahun empat bulan penjara.

Wartawan Itu Bernama "BLOGGER"

Disadur dari Tembi Rumah Budaya

Profesi wartawan sudah dikenal secara luas. Orang pasti tahu, wartawan adalah orang yang menyampaikan warta (informasi) kepada publik dengan menggunakan media. Awalnya orang hanya mengenal media cetak, yang disebut surat kabar dan media audio, yang dikenal dengan nama (R)adio (Republik Indonesia). Namun sekarang, orang bisa menemukan beragam media dan profesi wartawan tidak lagi dipahami seperti sebelumnya.

Karena “semua warga adalah jurnalis”, tanpa kartu pers dan tidak harus bekerja di media cetak maupun di media audio atau audio visual. Namanya pun bukan jurnalis, tetapi bloger.

Dunia media memang mengalami perkembangan yang luar biasa. Orang mempunyai banyak pilihan untuk mengakses media. Selain media konvensional, tersedia pula jenis media lain, seperti internet dan website. Pendeknya, orang seperti telah tenggelam di lautan media.

Ruang blog tersedia di web. Setiap orang bisa membuat blog melalui website dan menyampaikan informasi kepada publik. Ada beragam blog yang bisa diakses, dan tentu saja ada beragam informasi yang bisa didapatkan melalui blog. Dalam kata lain, mencari informasi sekarang sangat mudah. Informasi melimpah bagai air bah di beragam media.

Lalu bagaimana profesi wartawan harus ditempatkan di tengah banjirnya media?

Saya mencoba membaginya dalam dua kategori. Pertama, wartawan yang terikat oleh lembaga media dan hidup dari media bersangkutan serta menjalankan kebijakan perusahaan media. Kedua, wartawan yang tugasnya membanjiri informasi publik tanpa merasa perlu terikat oleh perusahaan media.

Pada kategori pertama kerja jurnalistik adalah sebentuk kerja. Wartawan adalah nama lain dari karyawan yang didalamnya dibagi dalam spesialiasi. Karena itu ada wartawan olah raga, wartawan ekonomi, wartawan budaya dan seterusnya. Pembagian bidang seperti itu menegaskan bahwa wartawan tidak bebas dari hirarki dan struktur.

Pada kategori kedua, yang saya sebut sebagai bloger, kerja jurnalistik didasari oleh kecintaan pada informasi dan komunikasi. Karena saking cintanya, bloger merelakan meluangkan waktu untuk “mencari informasi” guna mengisi blognya. Seperti halnya wartawan yang telah dibagi dalam bidang-bidang, blog pun juga telah membagi-bagi dirinya. Ada blog yang mengkhususkan diri di bidang seni rupa misalnya, namun tidak sedikit blog yang hadir secara lucu, menggelikan dan aneh. Dalam arti, content blog memberi hiburan pada publik yang mengaksesnya.

Dari media blog kita bisa tahu bahwa beragam informasi bisa dicari dan tidak harus melalui media cetak. Blog menunjukkan bahwa media telah memasuki ruang privat, bahkan sering kali abai terhadap sensor. Dalam kata lain, kekuatan sensor yang biasa diperankan oleh negara yang otoriter, kiranya kekuasaan seperti itu akan termangu menghadapi media yang menggunakan jaringan dunia maya.

Watak media memang telah berubah dari sebelumnya. Jika sebelumnya informasi “datang terlambat sehari” setelah peristiwa terjadi, media sekarang bisa menyajikan seketika atas peristiwa yang sedang (dan telah) terjadi. Watak media adalah: serentak, interaktif dan menyebar. Kita bisa bayangkan, ketika di Yogya terkena gempa, dalam hitungan menit peristiwa gempa tersebut telah menyebar secara serentak ke penjuru dunia. Bahkan, orang di lain tempat, termasuk di lain kota dan negara, bisa mendengar korban gempa berbicara di lokasi gempa dan berbincang dengan orang lain yang berada di satu tempat yang jauh.

Pendeknya, blog telah memberi tambahan nama. Yang dulunya dikenal dengan nama wartawan, sekarang tambah satu nama lagi, ialah bloger. Dalam praktek jurnalistik, bloger bisa menyerupai wartawan dalam meliput, tetapi untuk kepentingan publikasi bloger menggunakan ‘ruang’ yang dimilikinya. Sementara wartawan kembali ke perusahaan, di sana ruang media sudah disediakan untuk diisi.

Begitulah, pengisi blog namanya bloger. Pekerja media namanya wartawan atau jurnalis

Ons Untoro

PCMAV 1.4 Update Build2 (2 Juli 2008)

Link

Ada 10 virus baru yang banyak dilaporkan menyebar di Indonesia ditambahkan pada Update Build2 kali ini. Bagi Anda pengguna PCMAV 1.4 sangat disarankan segera melakukan update, agar PCMAV Anda dapat mengenali dan membasmi virus lebih banyak lagi. Jadi total tambahan virus sampai Update Build2 kali ini adalah sebanyak 15 virus.

DOWNLOAD

Daftar tambahan virus PCMAV 1.4 Update Build2:
Ang.vbs.B
Aniee.J
Boenk
Boenk.vbs
Cyrax-Tutor
Fisika
Godham
Godham.exe.A
Godham.exe.B
Godham.Inf
Kalong.vbs.E
Kalong.vbs.E.inf
Robert
Semut
Semut.vbs

sumber : Virus Indonesia

catatan : biar tambah cepet downloadnya,
silahkan daftar dulu DI SINI

[warning] MP Premium, Ancaman Terberat Bagi File Video-Data Anda?


Peluncuran Paket Premium berbahaya bagi data yang diposting dipanel Video anda baik yang diposting dipersonal blog maupun Group, dibagian bawah file video anda akan ada tulisan batas waktu video tersebut dapat diakses.

Untuk itu segara amankan data tersebut dengan cara :
1. Upagrade ke Premium, ----------- Langkah wajib bagi pengelola Group!
2. Dowload dan Backup kelain tempat ------ Kerja lagi, bandwith lagi!
3. Cukup menggerutu : Sialan si Multiply, koleksi video/data kita bakalan ilang, siapa bilang kita gratisan, kita kan bayar mereka pakai iklan yang nongol setiap saat. Sebel!"

Wah jadi ngambeg lagi ni....
Kalau saya salah prasangka tolong di beritahu ya... salam

PCMAV 1.4 USB Disk Filtering (UPDATE 24 JUNI 2008)

Link

PC Media Antivirus, telah mencapai versi 1.4 dan secara resmi dirilis ke publik. Di rilis kali ini, PCMAV mampu mengenali 1.937 virus beserta variannya yang banyak dilaporkan menyebar di Indonesia.

Di edisi ini telah diperbaiki bug yang mengakibatkan PCMAV berhenti bekerja pada Windows 98. Selain itu, penambahan beberapa algoritma heuristic baru serta pembuatan beberapa engine cleaner khusus juga telah dimasukan pada PCMAV 1.4 kali ini, dan beberapa perubahan yang lainnya. Yang signifikan adalah penambahan fitur USB Disk Filtering (lihat di bawah).

APA YANG BARU?
  1. Ditambahkan, database pengenal dan pembersih 62 virus lokal/asing/varian baru yang dilaporkan menyebar di Indonesia. Total 1.937 virus beserta variannya yang banyak beredar diIndonesia telah dikenal di versi 1.4 ini oleh engine internal PCMAV.
  2. Diperbaiki, rutin yang bertugas mendapatkan lokasi folder spesial yang ada di Windows, karena ada beberapa rutin yang tidak kompatibel dengan Windows 98.
  3. Diperbaiki, engine GetUpdates kini lebih tepat dalam mengenali database ClamAV mana yang harus di Update dan mana yang sudah ter-update.
  4. Diperbaiki, engine cleaner khusus untuk virus Repvblik.vbs, kini dapat bekerja lebih cepat dan tepat dalam mengatasi file yang terinfeksi.
  5. Diperbaiki, engine ClamAV kini tidak lagi mendeteksi file PCMAV sendiri sebagai virus akibat false alarm.
  6. Ditambahkan, beberapa engine heuristic baru yang dapat mendeteksi virus-virus jenis baru yang banyak menyebar.
  7. Improvisasi, pesan Information yang muncul ketika suatu object tidak bisa dibersihkan kini lebih informatif.
  8. Improvisasi, pesan file PCMAV yang rusak atau terkena virus kini lebih informatif.
  9. Diperbaiki, engine heuristic kini lebih diperketat dengan dengan berbagai filter untuk menghindari terjadinya kesalahan deteksi.
  10. Ditambahkan, info versi dari engine atau library ClamAV yang digunakan.
  11. Diperbaiki, engine scan memory yang terkadang tidak menampilkan data virus yang berhasil ditangkap, kini dapat berjalan normal.
  12. lmprovisasi, pada RTP ditambahkan hint information versi PCMAV pada saat mouse berada di atas lambang PCMAV di system tray.
  13. Diperbaiki, kesalahan deteksi (false alarm) pada beberapa program ataupun script.
  14. Diperbarui, perubahan beberapa nama virus mengikuti varian baru yang ditemukan.
  15. Perbaikan beberapa minor bug dan improvisasi kode internal untuk memastikan bahwa PCMAV Cleaner & PCMAV RealTime Protector lebih dari sekadar antivirus biasa.

Zaskia AM - Ayat-2 Cinta - Rokok

Link

[nuTOOL] Media Locker + Auto Uploader Bikin MP makin Woookehh :)

Melanjutkan tulisan pakDhe Okno perihal Tool baru MP di Journal berikut
http://admingrup.multiply.com/journal/item/56/Satu_Fungsi_Lagi_Untuk_MP

Maka berdasar berita terbitan MP terakhir toolnya adalah Media Locker dan Auto Uploader, (Premium Service anggap saja bukan NuTool.)

Detail-detailnya dapat diperiksa di link ini
http://multiply.multiply.com/journal/item/239/Introducing_the_Multiply_AutoUploader_Media_Locker_Premium_Service

Penjelasan Singkatnya adalah sebagai berikuit :
  1. Media Locker, adalah tempat kita dapat mengatur ulang semua posting kita, baik yang masih berupa draft maupun sudah terpublikasi. Tool ini posisi aksesnya ada dibawah Headshot personal blog.
  2. Auto Uploader, adalah tool untuk mengotomatisasi cara kita upload media tanpa harus satu persatu seperti biasanya, yaitu dengan cara kita tentukan folder tertentu di computer kita sebagai file temporer menyimpan file video, image dst. Lalu nanti setiap sekian menit Auto Uploader akan men-scan folder tersebut lalu mengirmkannya ke Media Locker MP anda berupa file draft. Setelwh itu barulah anda edit, pilah-pilah, untuk dipublikasikan. File draft di Media Locker ini umurnya 30 hari saja, setelah itu akan dikosongkan secara otomatis, kecuali bila kita memanfaatkan MP Premium, bisa selamanya.
Demikian nuTOOL-nyaMP yang makin membuat kita tak bisa kelain hati.


Salam

Menkes Tetap Ngotot Keberadaan Namru Tidak Penting

Selasa, 24 Juni 2008 - 00:14 wib,

Insaf Albert Tarigan - Okezone


JAKARTA
- Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadillah Supari tetap bersikukuh keberadaan Naval Medical Research Unit Two (Namru-2) tidak memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia.

"Namru tidak jelas kegiatannya. Banyak sampel-sampel virus yang tercatat dan yang tidak tercatat lebih banyak lagi," kata Menkes ketika rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (23/6/2008).

Menurutnya, keberadaan Namru bukan untuk kepentingan pengembangan medis bagi ilmu kedokteran, namun untuk kepentingan perang tentara Amerika Serikat.

"Supaya kalau berperang di daerah Asia dan tentaranya harus masuk hutan, mereka sudah tahu apa penyakitnya," ungkap Menkes.

Apalagi menurutnya perang di masa mendatang tidak lagi menggunakan senjata konvesional, melainkan menggunakan virus.

"Ini harus menjadi perhatian demi kedaulatan bangsa kita," tegasnya.(hri)

AYIN-NUS ERECTUS MAKELAR KASUS

Link

Telah ditemukan hewan primata spesies baru di negeri Gemah Ripah Rohjinawi
Diberi nama Ayin
Nama lengkap latinnya Ayin-nus erectus MAKELAR KASUS

Hewan primata ini mirip sekali dengan manusia
berjalan tegak
pemalu, makanya selalu dibungkus baju bagus
malah bisa berias dan berdandan
Tapi beda sama manusia dia hidup hanya mengikuti naluri untuk menguasai
melindungi diri dari ganasnya bumi
tidak ada hati nurani
tak ada budi pekerti

Kerja hewan ayin memakan segala perkara
habitatnya ada di gedung bundar sana
semua oknum yang berperkara, dia jilati, dia kunyah-kunyah, dia kentuti dengan hawa hormon berahi

Tapi seperti hewan primata lainnya
Dilakukan semua itu tanpa hati nurani, tanpa takut akan hidup sesudah mati
hanya untuk memuaskan naluri mempertahankan diri dan bereproduksi

Telah ditemukan hewan primata baru bernama ayin
dan menurut para ahli biologi
hewan ayin belum akan punah
karena protein di kromosomnya kuat sekali
sulit dibasmi dan hewan ini berkoloni
jadi dia pasti tidak sendiri

spesies ini pasti ada banyak sekali di negeri Gemah Ripah Rohjinawi
cuma menangkap hewan ini sulit setengah mati
harus pake penyadapan tehnologi canggih

makanya baru tertangkap satu hewan ayin
dan masih banyak lagi mengintai spesies ayin
di gedung bundar
di gedung kubus
di gedung melingkar
di gedung hangus

Mari beri selamat kepada para ahli biologi dan ahli tehnologi
yang telah berjasa menemukan dan mengisolasi hewan langka ini

(catatan: MAKELAR KASUS: Seratus persen hewan; YANG MAU BERURUSAN DENGAN MAKELAR KASUS: Setengah hewan, setengah manusia, tapi setara setan)kan hewan langka ini

Syech Siti Jenar - Mitoskah?

Dalam mempelajari sejarah Wali Sanga, kiranya belumlah puas rasanya, apabila tidak menyebut pula tentang diri Syekh Siti Jenar, meskipun cerita mengenai dirinya masih penuh diliputi rahasia dan tanda tanya, begitu pula keanggotaannya dalam kewalian masih juga masih menjadi perselisihan pendapat diantara para ahli sejarah. sebagian ada yang mengatkan bahwa Syekh Siti Jenar itu termasuk salah seorang wali sembilan yang terkenal di Jawa, hanya kemudian oleh karena beliau dipandang berbahaya oleh para wali lainnya karena mengajarkan ilmu mistik, yang dianggap sudah menyimpang dari dari dasar agama, karena kurang mengindahkan syariat sama sekali, maka akhirnya beliau tidak diperkenankan lagi mengajar, serta dikeluarkan pula dari keanggotaan wali. Bahkan kabarnya beliaupun dihukum mati, disebabkan oleh karena ajaran-ajarannya dianggap sesat serta menyesatkan. Disamping itu ada yang berpendapat andaikatapun benar bahwa beliau dipecat dahulu juga menjadi wali, akan tetapi bukan termasuk Wali Sembilan.

Maka sekarang sampailan kita kepada pertanyaan : Siapakah Syekh Siti Jenar itu ? Nama siti jenar sudahlah jelas, bahwa ini bukanlah nama yang sesungguhnya, melainkan nama samaran (bahasa. Jawa Julukan, Paraban). sebagaimana Sunan Kalijaga juga diberi julukan Syekh Malaya, menurut legenda yang hidup dikalangan masyarakat sampai sekarang, katanya Siti Jenar itu berarti Tanah Merah. Siti - artinya tanah (bahasa, Jawa : Lemah / Tanah) sedangkan Jenar - artinya merah (bahasa. Jawa : Abang / Merah). sehingga dalam babad kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Lemah Bang atau Lemah Brit.

Kemudian dari mana asalnya mulanya Syekh Siti Jenar itu? Apakah beliau berasal dari tanah Arab (Persia), India ataukah asli orang Jawa ? hal itu belum diketahui dengan pasti. dalam hal ini, Oemar Amin Hoesin seorang bekas attache pers, pada kedutaan Republik Indonesia di Mesir berpendapat, bahwa Siti Jenar itu mungkin adalah ucapan salah dari perkataan : Sidi Jinnar dari bahasa Persia, yang artinya : Sidi - tuan, Jinnar adalah orang yang kekuatannya seperti api. hal ini dihubungkan pula dengan kepercayaan dan hubungan kebudayaan yang ada antara bangsa Indonesia dengan Persia. sebab didalam bahasa Persia banyak nama atau perkataan-perkataan yang berakhiran : Nar, seperti misalnya " Annar, Nar, Naynar" dan sebagainya.

Diantara lain, ucapan-ucapan Syekh Siti Jenar adalah :
"Saya inilah Allah " saya sebetulnya bernama Prabu Satmata (atau Hyang Manon) dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan".

Kemudian katanya : "SyekhLemak Bang yektinipun, ing kene ora ana, amung Pangeran Sejati"
Artinya Syekh Siti Jenar sesungguhnya tak ada disini, yang ada hanyalah Tuhan yang Sejati.

Ujarnya pula :
"Awit seh lemang bang iku, wajahing pangeran jati. nadyan sira ngaturana, ing pangeran kang sejati, lamun Syekh Lemah Bang ora, mansa kalakon yekti"

Artinya :
Oleh karena Syekh Siti Jenar itu sesungguhnya adalah wajah wujudnya Tuhan Sejati, meskipun engkau menghadap kepada Tuhan yang sejati, manakala Siti Jenar tidak, maka tidaklah hal itu akan terlaksana. Pada waktu Maulana Maghribi memberi wejangan bahwa yang disebut Tuhan Allah Sejatiitu Wajibul Wujud (kang aran Allah jatine, wajibul wujud kang ana),maka Syekh Siti Jenar pun menjawablah, katanya :

"Aja ana kakehan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang Sejati, jejuluk Prabu Satmata, tan ana liyan jatine, ingkang aran bangsa Allah"

Artinya :
Jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan.

Oleh karena segala ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar ini dipandang sangt membahayakan kepada rakyat, maka akhirnya beliau pun dihukum mati oleh para wali.
Jikalau kita ikuti segala ucapan-ucapan Siti Jenar tersebut di atas, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan salah seorang misticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858-992). sebagaimana diketahui, Al Hallaj pernah berkata:

"Annal haqq" artinya :
"Sayalah kebenaran yang sejati itu" kemudian katanya pula "wa'ma fi jubbati illa-lah artinya "dan tidak ada yang dalam jubah , melainkan Allah".

Disamping itu al hallaj juga pernah mengatakan :
"Telah bercampur rahmu dalam rohku, laksana bercampurnya chamar dengan air jernih bila menyentuh akanmu sesuatu, tersentuhlah aku, sebab itu engkau adalah aku"

Dalam segala hal demikianlah pandangan hidupnya. ucapan dan ajarannya inilah yang mengakibatkan dia dihukum mati di atas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan menyesatkan oleh pemerintah Bagdad. kedua ahli mistik, baik Al Hallaj maupun Syekh Siti Jenar fahamnya condong kepada ajaran pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan khalik Maha Penciptanya. dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.

Kemudian kita dapati pula ucapan Siti Jenar yang lain, yang tampak isinya lebih mengutamakan hakekat daripada syari'at, katanya :

"Sahadat salat puwasa kawuri, apa dene jakat lawan pitrah, ujar iku dora kabehmau nora kena ginugu, Islam tetep durjaning budi, ngapusi kyehning titah, sinung swarga besuke, wong bodo kanur ulama, tur nyatane pada bae ora uning, beda syekh siti jenar."

Selanjutnya berkatalah Syekh Siti Jenar :
"Tan mituhu salat lawan dikir, jengkang-jengking neng masjid ting krembyah, nora nana ganjarane, yen wus ngapal batukmu, sejatine tanpa pinanggih, neng dunya bae pada susah amemikul, lara sangsaya tan beda, marma siti jenar mung madep wajidi, gusti dat roning kamal".

Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran-ajaran dari Syekh Siti Jenar. Dalam riwayat dikatakan bahwa murid Syekh Siti Jenar adalah : Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Pengging, Pangeran Panggung, Ki Lontang.

Walisongo : Misteri Islamisasi JAWA oleh Prof. Hasanu Simon

Link

Ditulis oleh Prof. Hasanu Simon,
di posting di http://www.mail- archive.com/ fos...@yahoogrou ps.com/msg00035. html
WALI SONGO - MISTERI ISLAMISASI JAWA
Tue 06 Nov 2007 20:54:47 -0800
MISTERI ISLAMISASI JAWA

Berikut Isi Tulisan Dari Prof. Hasanu Simon :

BAB I

Sebelum saya sampaikan tanggapan dan komentar saya terhadap buku berjudul "Syekh Siti Jenar, Ajaran dan Jalan Kematian", karya Dr Abdul Munir Mulkhan, saya sampaikan dulu mengapa saya bersedia ikut menjadi pembahas buku tersebut. Tentu saja saya mengucapkan terima kasih kepada panitia atas kepercayaan yang diberikan kepada saya di dalam acara launching buku yang katanya sangat laris ini.
Saya masuk Fakultas Kehutanan UGM tahun 1965, memilih Jurusan Manajemen Hutan. Sebelum lulus saya diangkat menjadi asisten, setelah lulus mengajar Perencanaan dan Pengelolaan Hutan. Pada waktu ada Kongres Kehutanan Dunia VIII di Jakarta tahun 1978, orientasi sistem pengetolaan hutan mengalami perubahan secara fundamental. Kehutanan tidak lagi hanya dirancang berdasarkan ilmu teknik kehutanan konvensional, melainkan harus melibatkan ilmu sosial ekonomi masyarakat. Sebagai dosen di bidang itu saya lalu banyak mempelajari hubungan hutan dengan masyarakat mulai jaman kuno dulu. Di situ saya banyak berkenalan dengan sosiologi dan antropologi. Khusus dalam mempelajari sejarah hutan di Jawa, banyak masalah sosiologi dan antropologi yang amat menarik.
Kehutanan di Jawa telah menyajikan sejarah yang amat panjang dan menarik untuk menjadi acuan pengembangan strategi kehutanan sosial (social forestry strategy) yang sekarang sedang dan masih dicari oleh para ilmuwan. Belajar sejarah kehutanan Jawa tidak dapat melepaskan diri dengan sejarah bangsa Belanda. Dalam mempelajari sejarah Belanda itu, penulis sangat tertarik dengan kisah dibawanya buku-buku dan Sunan Mbonang di Tuban ke negeri Belanda. Peristiwa itu sudah terjadi hanya dua tahun setelah bangsa Belanda mendarat di Banten. Sampai sekarang buku tersebut masih tersimpan rapi di Leiden, diberi nama "Het Book van Mbonang", yang menjadi sumber acuan bagi para peneliti sosiologi dan antropologi.

Buku serupa tidak dijumpai sama sekali di Indonesia. Kolektor buku serupa juga tidak dijumpai yang berkebangsaan Indonesia. Jadi seandainya tidak ada "Het Book van Mbonang", kita tidak mengenal sama sekali sejarah abad ke-16 yang dilandasi dengan data obyektif. Kenyataan sampai kita tidak memiliki data obyektif tentang Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijogo, dan juga tentang Syekh Siti Jenar. Oleh karena itu yang berkembang lalu kisah-kisah mistik bercampur takhayul, termasuk misteri Syekh Siti Jenar yang hari ini akan kita bicarakan. Kisah Walisongo yang penuh dengan mistik dan takhayul itu amat ironis, karena kisah tentang awal perkembangan Islam di Indonesia, sebuah agama yang sangat keras anti kemusyrikan.

Pembawa risalah Islam, Muhammad SAW yang lahir 9 abad sebelum era Wallsongo tidak mengenal mistik. Beliau terluka ketika berdakwah di Tho'if, beliau juga terluka dan hampir terbunuh ketika perang Uhud. Tidak seperti kisah Sunan Giri, yang ketika diserang pasukan Majapahit hanya melawan tentara yang jumlahnya lebih banyak itu dengan melemparkan sebuah bollpoint ke pasukan Majapahit. Begitu dilemparkan bollpoint tersebut segera berubah menjadi keris sakti, lalu berputar-putar menyerang pasukan Majapahit dan bubar serta kalahlah mereka. Keris itu kemudian diberi nama Keris Kolomunyeng, yang oleh Kyai Langitan diberikan kepada Presiden Gus Dur beberapa bulan lalu yang antara lain untuk menghadapi Sidang Istimewa MPR yang sekarang sedang digelar, dan temyata tidak ampuh.
Kisah Sunan Kalijogo yang paling terkenal adalah kemampuannya untuk membuat tiang masjid dari tatal dan sebagai penjual rumput di Semarang yang diambil dari Gunung Jabalkat. Kisah Sunan Ampel lebih hebat lagi; salah seorang pembantunya mampu melihat Masjidil Haram dari Surabaya untuk menentukan arah kiblat. Pembuat ceritera ini jelas belum tahu kalau bumi berbentuk bulat sehingga permukaan bumi ini melengkung. Oleh karena itu tidak mungkin dapat melihat Masjidil Haram dari Surabaya.
Islam juga mengajarkan bahwa Nabi lbrahim AS, yang hidup sekitar 45 abad sebelum era Walisongo, yang lahir dari keluarga pembuat dan penyembah berhala, sepanjang hidupnya berdakwah untuk anti berhala . Ini menunjukakan bahwa kisah para wali di Jawa sangat ketinggalan jaman dibanding dengan kisah yang dialami oleh orang-orang yang menjadi panutannya, pada hal selisih waktu hidup mereka sangat jauh. "Het Book van Mbonang" yang telah melahirkan dua orang doktor dan belasan master bangsa Belanda itu memberi petunjuk kepada saya, pentingnya menulis sejarah berdasarkan fakta yang obyektif "Het Book van Bonang" tidak menghasilkan kisah Keris Kolomunyeng, kisah cagak dan tatal, kisah orang berubah menjadi cacing, dan sebagainya.
Itulah ketertarikan saya dengan Syekh Siti Jenar sebagai bagian dari sejarah Islam di Indonesia. Saya tertarik untuk ikut menulis tentang Syekh Siti Jenar dan Walisongo. Tulisan saya belum selesai, tapi niat saya untuk terlibat adalah untuk membersihkan sejarah Islam di Jawa ini dari takhayul, mistik, khurofat dan kemusyrikan. Itulah sebabnya saya terima tawaran panitia untuk ikut membahas buku Syekh Siti Jenar karya Dr Abdul Munir Mulkhan ini. Saya ingin ikut mengajak masyarakat untuk segera meninggalkan dunia mitos dan memasuki dunia ilmu.

Dunia mitos tidak saja bertentangan dengan akidah Islamiyah, tetapi juga sudah ketinggalan jaman ditinjau dari aspek perkembangan ilmu pengetahuan. Secara umum dunia mitos telah ditinggalkan akhir abad ke-19 yang lalu, atau setidak-tidaknya awal abad ke-20. Apakah kita justru ingin kembali ke belakang? Kalau kita masih berkutat dengan dunia mitos, masyarakat kita juga hanya akan menghasilkan pemimpin mitos yang selalu membingungkan dan tidak menghasilkan sesuatu.


BAB II

Siapa Syekh Siti Jenar ? Kalau seseorang menulis buku, tentu para pembaca berusaha untuk mengenal jatidiri penulis tersebut, minimal bidang keilmuannya. Oleh karena itu isi buku dapat dijadikan tolok ukur tentang kadar keilmuan dan identitas penulisnya. Kalau ternyata buku itu berwama kuning, penulisnya juga berwama kuning. Sedikit sekali terjadi seorang yang berfaham atheis dapat menulis buku yang bersifat relijius karena dua hal itu sangat bertentangan. Seorang sarjana pertanian dapat saja menulis buku tentang sosiologi, karena antara pertanian dan sosiologi sering bersinggungan. Jadi tidak mustahil kalau Isi sebuah buku tentu telah digambarkan secara singkat oleh judulnya. Buku tentang Bertemak Kambing Ettawa menerangkan seluk-beluk binatang tersebut, manfaatnya, jenis pakan, dan sebagainya yang mempunyai kaitan erat dengan kambing Ettawa.
Judul buku karya Dr Abdul Munir Mulkhan ini adalah: "Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar. Pembaca tentu sudah membayangkan akan memperoleh informasi tentang kedua hal itu, yaitu ajaran Syekh Siti Jenar dan bagaiamana dia mati. Penulis buku juga setia dengan ketentuan seperti itu.
Bertitik-tolak dari ketentuan umum itu, paragraf 3 sampai dengan 6, Bab Satu tidak relevan.. Bab Satu diberi judul: Melongok Jalan Sufi: Humanisasi Islam Bagi Semua. Mungkin penulis ingin mengaktualisasikan ajaran Syekh Siti Jenar dengan situasi kini, tetapi apa yang ditulis tidak mengena sama sekali. Bahkan di dalam paragraf 3-6 itu banyak pemyataan (statements) yang mencengangkan saya sebagai seorang muslim.

Pernyataan di dalam sebuah tulisan, termasuk buku, dapat berasal dari diri sendiri atau dari orang lain. Pemyataan orang lain mesti disebutkan sumbernya; oleh karena itu peryataan yang tidak ada sumbemya dianggap oleh pembaca sebagai pernyataan dari penulis. Peryataan orang lain dapat berbeda dengan sikap, watak dan pendapat penulis, tetapi pernyataan penulis jelas menentukan sikap, watak dan pendapatnya. Pernyataan-pernyata an di dalam sebuah buku tidak lepas satu dengan yang lain. Rangkaiannya, sistematika penyajiannya, merupakan sebuah bangunan yang menentukan kadar ilmu dan kualitas buku tersebut. Rangkaian dan sistematika pernyataan musti disusun menurut logika keilmuan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh masyarakat ilmu.
Untuk mengenal atau menguraikan ajaran Syekh Siti Jenar, adalah logis kalau didahului dengan uraian tentang asal-usul yang empunya ajaran. Ini juga dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan (Paragraf I Bab Satu, halaman 3-10). Di dalam paragraf tersebut diterangkan asal-usul Syekh Siti Jenar tidak jelas. Seperti telah diterangkan, karena tidak ada sumber obyektif maka kisah asal-usul ini juga penuh dengan versi-versi. Di halaman 3, dengan mengutip penelitian Dalhar Shofiq untuk skripsi S-1 Fakultas Filsafat UGM, diterangkan bahwa Syekh Siti Jenar adalah putera seorang raja pendeta dari Cirebon bemama Resi bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Hasan Ali alias Abdul Jalil.
Kalau seseorang menulis buku, apalagi ada hubungannya dengan hasil penelitian, pembahasan secara ilmiah dengan menyandarkan pada logika amat penting. Tidak semua berita dikutip begitu saja tanpa analisis. Di dalam uraian tentang asal-usul Syekh Siti Jenar di halaman 3-10 ini jelas sekali penuh dengan kejanggalan, tanpa secuil analisis pun untuk memvalidasi berita tersebut. Kejanggalan- kejanggalan itu adalah:
  1. Ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang raja pendeta benama Resi Bungsu. Istilah raja pendeta ini kan tidak jelas. Apakah dia seorang raja, atau pendeta. Jadi beritanya saja sudah tidak jelas sehingga meragukan.
  2. Di halaman 62, dengan mengutip sumber Serat Syekh Siti Jenar, diterangkan bahwa ayah Syekh Siti Jenar adalah seorang elite agama Hindu-Budha. Agama yang disebutkan ini juga tidak jelas. Agama Hindu tidak sama dengan agama Budha. Setelah Islam muncul menjadi agama mayoritas penduduk pulau Jawa, persepsi umum masyarakat memang mengangap agama Hindu dan Budha sama. Pada hal ajaran kedua agama itu sangat berbeda, dan antara keduanya pernah terjadi perseteruan akut selama berabad-abad. Runtuhnya Mataram Hindu pada abad ke-10 disebabkan oleh perseteruan akut tersebut. Runtuhnya Mataram Hindu berakibat sangat fatal bagi perkembangan Indonesia. Setelah itu kerajaan-kerajaan Jawa terus menerus terlibat dengan pertikaian yang membuat kemunduran. Kemajuan teknologi bangsa Jawa yang pada abad ke-10 sudah di atas Eropa, pada abad ke-20 ini jauh di bawahnya. Tidak hanya itu, bahkan selama beberapa abad Indonesia (termasuk Jawa) ada di bawah bayang-bayang bangsa Eropa.
  3. Kalau ayah Syekh Siti Jenar beragama Hindu atau Budha, mengapa anaknya diberi nama Arab, Hasan Ali alias Abdul Jalil. Apalagi seorang "raja pendeta" yang hidup di era pergeseran mayoritas agama rakyat menuju agama Islam, tentu hal itu janggal terjadi.
  4. Atas kesalahan yang dilakukan anaknya, sang ayah menyihir sang anak menjadi seekor cacing lalu dibuang ke sungai. Di sini tidak disebut apa kesalahan tersebut, sehinga sang ayah sampai tega menyihir anaknya menjadi cacing. Masuk akalkah seorang ayah yang "raja pendeta" menyihir anaknya menjadi cacing. Ilmu apakah yang dimiliki "raja pendeta" Resi Bungsu untuk merubah seseorang menjadi cacing? Kalau begitu, mengapa Resi Bungsu tidak menyihir para penyebar Islam yang pada waktu itu mendepak pengaruh dan ketenteraman batinnya? Ceritera seseorang mampu merubah orang menjadi binatang ceritera kuno yang mungkin tidak pemah ada orang yang melihat buktinya. Ini hanya terjadi di dunia pewayangan yang latar belakang agamanya Hindu (Mahabarata) dan Budha (Ramayana).
  5. Cacing Hasan Ali yang dibuang di sungai di Cirebon tersebut, suatu ketika terbawa pada tanah yang digunakan untuk menembel perahu Sunan Mbonang yang bocor.. Sunan Mbonang berada di atas perahu sedang mengajar ilmu gaib kepada Sunan Kalijogo. Betapa luar biasa kejanggalan pada kalimat tersebut. Sunan Mbonang tinggal di Tuban,sedang cacing Syekh Siti Jenar dibuang di sungai daerah Cirebon. Di tempat lain dikatakan bahwa Sunan Mbonang mengajar Sunan Kalijogo di perahu yang sedang terapung di sebuah rawa. Adakah orang menembel perahu bocor dengan tanah? Kalau toh menggunakan tanah, tentu dipilih dan disortir tanah tersebut, termasuk tidak boleh katutan (membawa) cacing.
  6. Masih di halaman 4 diterangkan, suatu saat Hasan Ali dilarang Sunan Giri mengikuti pelajaran ilmu gaib kepada para muridnya. Tidak pemah diterangkan, bagaimana hubungan Hasan Ali dengan Sunan Giri yang tinggal di dekat Gresik. Karena tidak boleh, Hasan Ali lalu merubah dirinya menjadi seekor burung sehingga berhasil mendengarkan kuliah Sunan Giri tadi dan memperoleh ilmu gaib. Setelah itu Hasan Ali lalu mendirikan perguruan yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali. Untuk apa Hasan Ali belajar ilmu gaib dari Sunan Giri, pada hal dia sudah mampu merubah dirinya menjadi seekor burung.

Al hasil, seperti dikatakan oleh Dr Abdul Munis Mulkhan sendiri dan banyak penulis yang lain, asal-usul Syekh Siti Jenar memang tidak jelas. Karena itu banyak pula orang yang meragukan, sebenarnya Syekh Siti Jenar itu pernah ada atau tidak . Pertanyaan ini akan saya jawab di belakang. Keraguan tersebut juga berkaitan dengan, di samping tempat lahimya, di mana sebenamya tempat tinggal Syekh Siti Jenar. Banyak penulis selalu menerangkan bahwa nama lain Syekh Siti Jenar adalah: Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang. Kebiasaan waktu, nama sering dikaitkan dengan tempat tinggal. Di mana letak Siti Jenar atau Lemah Abang itu sampai sekarang tidak pemah jelas; padahal tokoh terkenal yang hidup pada jaman itu semuanya diketahui tempat tinggalnya. Syekh Siti Jenar tidak meninggalkan satupun petilasan.

Karena keraguan dan ketidak-jelasan itu, saya setuju dengan pendapat bahwa Syekh Siti Jenar memang tidak pemah ada. Lalu apa sebenarnya Syekh Siti Jenar itu? Sekali lagi pertanyaan ini akan saya jawab di belakang nanti. Kalau Syekh Siti Jenar tidak pernah ada, mengapa kita ber-tele-tele membicarakan ajarannya. Untuk apa kita berdiskusi tentang sesuatu yang tidak pemah ada. Apalagi diskusi itu dalam rangka memperbandingkan dengan Al Qur'an dan Hadits yang amat jelas asal-usulnya, mulia kandungannya, jauh ke depan jangkauannya, tinggi muatan ipteknya, sakral dan dihormati oleh masyarakat dunia.
Sebaliknya, Syekh Siti Jenar hanya menjadi pembicaraan sangat terbatas di kalangan orang Jawa. Tetapi karena begitu sinis dan menusuk perasaan orang Islam yang telah kaffah bertauhid, maka mau tidak mau lalu sebagian orang Islam harus melayaninya. Oleh karena itu sebagai orang Islam yang tidak lagi ragu terhadap kebenaran Al Qur'an dan kerosulan Muhammad Saw, saya akan berkali-kali mengajak saudara-saudaraku orang Islam untuk berhati-hati dan jangan terlalu banyak membuang waktu untuk mendiskusikan ceritera fiktif yang berusaha untuk merusak akidah Islamiyah ini.

BAB III

Sunan Kalijogo
Semua orang di Indonesia, apalagi orang Islam, kenal dengan nama Sunan Kalijogo yang kecilnya bernama Raden Mas Said ini. Dikatakan dia adalah putera Adipati Tuban Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur Yang beragama Islam.
Silsilah Raden Sahur ke atas adalah putera Ario Tejo III (Islam), putera Ario Tejo II, putera Ario Tejo II (Hindu), putera Ario Tejo I, putera Ronggolawe, putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja, putera Adipati Ponorogo. Itulah asal usul Sunan Kalijogo yang banyak ditulis dan diyakini orang, yang sebenamya merupakan versi Jawa. Dua versi lainnya tidak pernah ditulis atau atau tidak dijumpai dalam media cetak sehingga tidak diketahui masyarakat luas (Imron Abu Ammar, 1992).
Di depan telah saya singgung bahwa kisah Sunan Kalijogo versi Jawa ini penuh dengan ceritera mistik. Sumber yang orisinil tentang kisah tersebut tidak tersedia. Ricklefs, sejarawan Inggris yang banyak meneliti sejarah Jawa, menyebutkan bahwa sebelum ada catatan bangsa Belanda memang tidak tersedia data yang dapat dipercaya tentang sejarah Jawa. Sejarah Jawa banyak bersumber dari cerita rakyat yang versinya banyak sekali.. Mungkin cerita rakyat itu bersumber dari catatan atau cerita orang-orang yang pernah menjabat sebagai Juru Pamekas, lalu sedikit demi sedikit mengalami distorsi setelah melewati para pengagum atau penentangnya.
Namun demikian sebenarnya Sunan Kalijogo meninggalkan dua buah karya tulis, yang satu sudah lama beredar sehingga dikenal luas oleh masyarakat, yaitu Serat Dewo Ruci, sedang yang satu lagi belum dikenal luas, yaitu Suluk Linglung. Serat Dewo Ruci telah terkenal sebagai salah satu lakon wayang. Saya pertama kali melihat wayang dengan lakon Dewo Ruci pada waktu saya masih duduk di kelas 5 SR, di desa kalahiran ibu saya Pelempayung (Madiun) yang dimainkan oleh Ki dalang Marijan. Sunan Kalijogo sendiri sudah sering menggelar lakon yang sebenarnya merupakan kisah hidup yang diangan-angkan sendiri, setelah kurang puas dengan jawaban Sunan Mbonang atas pertanyaan yang diajukan. Sampai sekarang Serat Dewo Ruci merupakan kitab suci para penganut Kejawen, yang sebagian besar merupakan pengagum ajaran Syekh Siti Jenar yang fiktif tadi.
Kalau Serat Dewo Ruci diperbandingkan dengan Suluk Linglung, mungkin para penganut Serat Dewo Ruci akan kecelek. Mengapa demikian? Isi Suluk Linglung temyata hampir sama dengan isi Serat Dewo Ruci, dengan perbedaan sedikit namun fundamental. Di dalam Suluk Linglung Sunan Kalijogo telah menyinggung pentingnya orang untuk melakukan sholat dan puasa, sedang hal itu tidak ada sama sekali di dalam Serat Dewo Ruci. Kalau Serat Dewo Ruci telah lama beredar, Suluk Linglung baru mulai dikenal akhir-akhir ini saja. Naskah Suluk Linglung disimpan dalam bungkusan rapi oleh keturunan Sunan Kalijogo.. Seorang pegawai Departemen Agama Kudus, Drs Chafid mendapat petunjuk untuk mencari buku tersebut, dan ternyata disimpan oleh Ny Mursidi, keturunan Sunan Kalijogo ke-14. Buku tersebut ditulis di atas kulit kambing, oleh tangan Sunan Kalijogo sendin' menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa. Tahun 1992 buku diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Saat ini saya sedang membahas kedua buku itu, dan untuk sementara saya sangat bergembira karena menurut kesimpulan saya, menjelang wafat ternyata Sunan Kalijogo menjadi kaffah mengimani Islam. Sebelumnya Sunan Kalijogo tidak setia menjalankan syariat Islam, sehingga orang Jawa hanya meyakini bahwa yang dilakukan oleh Sunan terkenal ini bukan sholat lima waktu melain sholat da'im. Menurut Ustadz Mustafa Ismail LC, da'im berarti terus-menerus. Jadi Sunan Kalijogo tidak sholat lima waktu melainkan sholat da'im dengan membaca Laa illaha ilalloh kapan saja dan di mana saja tanpa harus wudhu dan rukuk-sujud. Atas dasar itu untuk sementara saya membuat hipotesis bahwa Syekh Jenar sebenamya adalah Sunan Kalijogo. Hipotesis inilah yang akan saya tulis dan sekaligus saya gunakan untuk mengajak kaum muslimin Indonesia untuk tidak bertele-tele menyesatkan diri dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Sayang, waktu saya masih banyak terampas untuk menyelesaikan buku-buku saya
tentang kehutanan sehingga upaya saya untuk mengkaji dua buku tersebut tidak dapat berjalan lancar. Atas dasar itu pula saya menganggap bahwa diskusi tentang Syekh Siti Jenar, seperti yang dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan ini, menjadi tidak mempunyai landasan yang kuat kalau tidak mengacu kedua buku karya Sunan Kalijogo tersebut.
Sebagai tambahan, pada waktu Sunan Kalijogo masih berjatidiri seperti tertulis di dalam Serat Dewo Ruci, murid-murid kinasih-nya berfaham manunggaling kawulo Gusti (seperti Sultan Hadiwidjojo, Pemanahan, Sunan Pandanaran, dan sebagainya), sedang setelah kaffah murid dengan tauhid murni, yaitu Joko Katong yang ditugaskan untuk mengislamkan Ponorogo. Joko Katong sendiri menurunkan tokoh-tokoh Islam daerah tersebut yang pengaruhnya amat luas sampai sekarang, termasuk Kyai Kasan Bestari (guru R Ng Ronggowarsito) , Kyai Zarkasi (pendiri PS Gontor), dan mantan Presiden BJ Habibie termasuk Ny Ainun Habibie.


BAB IV

Walisongo
Sekali lagi kisah Walisongo penuh dengan cerita-cerita yang sarat dengan mistik. Namun Widji Saksono dalam bukunya "Mengislamkan Tanah Jawa" telah menyajikan analisis yang memenuhi syarat keilmuan. Widji Saksono tidak terlarut dalam cerita mistik itu, memberi bahasan yang memadai tentang hal-hal yang tidak masuk akal atau yang bertentangan dengan akidah Islamiyah.
Widji Saksono cukup menonjolkan apa yang dialami oleh Raden Rachmat dengan dua temannya ketika dijamu oleh Prabu Brawidjaja dengan tarian oleh penan putri yang tidak menutup aurat. Melihat itu Raden Rachmat selalu komat-kamit, tansah ta'awudz. Yang dimaksudkan pemuda tampan terus istighfar melihat putri-putri cantik menari dengan sebagian auratnya terbuka. Namun para pengagum Walisongo akan "kecelek" (merasa tertipu, red) kalau membaca tulisan Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis menemukan sebuah naskah yang mengambil informasi dari sumber orisinil yang tersimpan di musium Istana Istambul, Turki. Menurut sumber tersebut, temyata organisasi Walisongo dibentuk oleh Sultan Muhammad I. Berdasarkan laporan para saudagar Gujarat itu, Sultan Muhammad I lalu ingin mengirim tim yang beranggotakan sembilan orang, yang memiliki kemampuan di berbagai bidang, tidak hanya bidang ilmu agama saja.. Untuk itu Sultan Muhammad I mengirim surat kepada pembesar di
Afrika Utara dan Timur Tengah, yang isinya minta dikirim beberapa ulama yang mempunyai karomah.

Berdasarkan perintah Sultan Muhammad I itu lalu dibentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki. Berita ini tertulis di dalam kitab Kanzul 'Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi. Secara lengkap, nama, asal dan keahlian 9 orang tersebut adalah sebagai berikut:
1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro'il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni jin jahat (??).

Dengan informasi baru itu terjungkir-baliklah sejarah Wallsongo versi Jawa. Ternyata memang sejarah Walisongo versi non-Jawa, seperti telah disebutkan di muka, tidak pemah diekspos, entah oleh Belanda atau oleh siapa, agar orang Jawa, termasuk yang memeluk agama Islam, selamanya terus dan semakin tersesat dari kenyataan yang sebenamya. Dengan informasi baru itu menjadi jelaslah apa sebenamya Walisongo itu. Walisongo adalah gerakan berdakwah untuk menyebarkan Islam. Oleh karena gerakan ini mendapat perlawanan dengan gerakan yang lain, termasuk gerakan Syekh Siti Jenar.

Latar Belakang Gerakan Syekh Siti Jenar
Tulisan tentang Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya bersumber pada satu tulisan saja, yang mula-mula tanpa pengarang. Tulisan yang ada pengarangnya juga ada, misalnya Serat Sastro Gendhing oleh Sultan Agung. Buku berjudul Ajaran Syekh Siti Jenar karya Raden Sosrowardojo yang menjadi buku induk karya Dr Abdul Munir Mulkhan itu sebenarnya merupakan gubahan atau tulisan ulang dari buku dengan judul yang sama karya Ki Panji Notoroto. Nama Panji Notoroto adalah samaran mantan Adipati Mataram penganut berat ajaran Syekh Siti Jenar. Ki Panji Notoro memberi informasi menarik, bahwa rekan-rekan Adipati seangkatannya ternyata tidak ada yang dapat membaca dan menulis. Ini menunjukkan bahwa setelah era Demak Bintoro, nampaknya pendidikan klasikal di masyarakat tidak berkembang sama sekali.

Memahami Al Qur'an dan Hadits tidak mungkin kalau tidak disadari dengan ilmu. Penafsiran Al Qur'an tanpa ilmu akan menghasilkan hukum-hukum yang sesat belaka. Itulah nampaknya yang terjadi pada era pasca Demak, yang kebetulan sejak Sultan Hadiwidjojo agama yang dianut kerajaan adalah agama manunggaling kawulo Gusti. Di samping masalah pendidikan, sejak masuknya agama Hindu di Jawa ternyata pertentangan antar agama tidak pernah reda. Hal ini dengan jelas ditulis di dalam Babad Demak. Karena pertentangan antar agama itulah Mataram Hindu runtuh (telah diterangkan sebelumnya). Sampai dengan era Singasari, masih ada tiga agama besar di Jawa yaitu Hindu, Budha dan Animisme yang juga sering disebut Agama Jawa. Untuk mencoba meredam pertentangan agama itu, Prabu Kertonegoro, raja besar dan terakhir Singasari, mencoba untuk menyatukannya dengan membuat agama baru disebut agama Syiwa-Boja. Syiwa mewakili agama Hindu, Bo singkat Buda dan Ja mewakili agama Jawa.

Nampaknya sintesa itulah yang, ditiru oleh politik besar di Indonesa akhir decade 1950-an dulu, Nasakom. Dengan munculnya Islam sebagai agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Budha dan Animisme yang melakukan perlawanan secara tidak terang-terangan. Mereka lalu membuat berbagai cerita, misalnya Gatholoco, Darmogandhul, Wali Wolu Wolak-walik, Syekh Bela Belu, dan yang paling terkenal Syekh Siti Jenar. Untuk yang terakhir itu kebetulan dapat di-dhompleng- kan kepada salah satu anggota Walisongo yang terkenal, yaitu Sunan Kalijogo seperti telah disebutkan di muka.

Jadi Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya sebuah gerakan anti reformasi, anti perubahan dari Hindu-Budha- Jawa ke Islam. Oleh karena itu isi gerakan itu selalu sinis terhadap ajaran Islam, dan hanya diambil potongan-potonganny a yang secara sepintas nampak tidak masuk akal. Potongan- potongan ini banyak sekali disitir oleh Dr Abdul Munir Mulkhan tanpa telaah yang didasarkan pada dua hal, yaltu logika dan aqidah.

Pernyataan-pernyataan
Masalah pernyataan yang dibuat oleh penulis buku ini telah saya singgung di muka. Banyak sekali pernyataan yang saya sebagai muslim ngeri membacanya, karena buku ini ditulis juga oleh seorang muslim, malah Ketua sebuah organisasi Islam besar. Misalnya pernyataan yang menyebutkan: "ngurusi" Tuhan, semakin dekat dengan Tuhan semakin tidak manusiawi, kelompok syariah yang dibenturkan dengan kelompok sufi, orang beragama yang mengutamakan formalitas, dan sebagainya.

Setahu saya dulu pernyataan seperti itu memang banyak diucapkan oleh orang-orang dari gerakan anti Islam, termasuk orang-orang dari Partai Komunis Indonesia yang pemah menggelar kethoprak dengan lakon "Patine Gusti Allah" (matinya Allah,red) di daerah Magelang tahun 1965-an awal. Bahkan ada pernyataan yang menyebutkan bahwa syahadat, sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji itu tidak perlu. Yang penting berbuat baik untuk kemanusiaan.
Ini jelas pendapat para penganut agama Jawa yang sedih karena pengaruhnya terdesak oleh Islam. Rosululloh juga tidak mengajarkan pelaksanaan ibadah hanya secara formalistik, secara ritual saja. Dengan Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik, karena kehidupan muslimin harus memenuhi dua aspek, yaitu hablum minannaas wa hablum minalloh.

Di dalam buku, seperti saya sebutkan, hendaknya pernyataan disusun sedemikian rupa untuk membangun sebuah misi atau pengertian. Apa sebenarnya misi yang akan dilakukan oleh Dr Abdul Munir Mulkhan dengan menulir buku Syekh Siti Jenar itu. Buku ini juga dengan jelas menyiratkan kepada pembaca bahwa mempelajari ajaran Syekh Siti Jenar itu lebih baik dibanding dengan mempelajari fikih atau syariat. Islam tidak mengkotak-kotakkan antara fikih, sufi dan sebagainya. Islam adalah satu, yang karena begitu kompleksnya maka orang harus belajar secara bertahap. Belajar syariah merupakan tahap awal untuk mengenal Islam.
Penulis juga membuat pernyataan tentang mengkaji Al Qur'an. Bukan hanya orang Islam dan orang yang tahun bahasa Arab saja yang boleh belajar Qur'an. Di sini nampaknya penulis lupa bahwa untuk belajar Al Qur'an ada, dua syarat yang harus dipenuhl, yaitu muttaqien (Al Baqoroh ayat 2) dan tahu penjelasannya, yang sebagian telah dicontohkan oleh Muhammad Saw. Jadi sebenamya boleh saja siapapun mengkaji Al Qur'an, tetapi tentu tidak boleh semaunya sendiri, tanpa melewati dua rambu penting itu. Oleh karena itu saya mengajak kepada siapapun, apalagi yang beragama Islam, untuk belaiar Al Qur'an yang memenuhi kedua syarat itu, misalnya kepada Ustadz Umar Budiargo, ustadz Mustafa Ismail, dan banyak lagi, khususnya alumni universitas Timur Tengah. Jangan belajar Al Qur'an dari pengikut ajaran Syekh Siti Jenar karena pasti akan tersesat sebab Syekh Siti Jenar adalah gerakan untuk melawan Islam.

Catatan Kecil
Untuk mengakhiri tanggapan saya, saya sampaikan beberapa catatan kecil pada buku Syekh Siti Jenar karya Dr Abdul Munis Mulkhan ini :
  1. Banyak kalimat yang tidak sempurna, tidak mempunyai subyek misalnya. Juga banyak kalimat yang didahului denga kata sambung.
  2. Banyak pernyataan yang terlalu sering diulang-ulang sehingga terkesan mengacaukan sistematika penulisan.
  3. Bab Satu diakhir dengan Daftar Kepustakaan, Bab lain tidak, dan buku ini ditutup dengan Sumber Pustaka. Yang yang tercantum didalam Daftar kepustakaan Bab Satu hampir sama dengan yang tercantum dalam Sumber Pustaka.
  4. Cara mensitir penulis tidak konsisten, contoh dapat dilihat pada halaman II yang menyebut: ....... sejarah Islam (Madjld, Khazanah, 1984), dan di alinea berikutnya tertulis:... .... Menurut Nurcholish Madjld (Khazanas, 1984, hlm 33).
  5. Bab Keempat, seperti diakui oleh penulis, merupakan terjemahan buka karya Raden Sosrowardoyo yang pemah ditulis di dalam buku dengan judul hampir sama oleh penulis. Di dalam buku ini bab tersebut mengambil hampir separoh buku (halaman 179-310). Karena pemah ditulis, sebenamya di sini tidak perlu ditulis lagi melainkan cukup mensitir saja. Beberapa catatan ini memang kecil, tetapi patut disayangkan untuk sebuah karya dari seorang pemegang gelar akademik tertinggi, Doktor.
Demikianlah tanggapan saya, kurang lebihnya mohon dima'afkan. Semoga yang saya lakukan berguna untuk berwasiat-wasitan (saling menasehati,red) didalam kebenaran sesuai dengan amanat Alloh Swt di dalam surat Al-'Ashr
Amien.

Wassalaamu 'alaikum warokhwatulloohi wabarokaatuh.

---------------------------------
PENTING :
Posting ini bukan untuk membahas hal-hal Agama atau Keyakinan tertentu, kerangka ilmiah harus menjadi Pagarnya.

nuwun

Banten MAP - add Yours